Ba Alawi bukan cucu nabi


 Polemik Nasab Keturunan Ba Alawi Kaum Para Habaib Semakin Nampak Kepalsuannya Sebagai Keturunan Nabi Melalui Sayyid Ahmad Al-Abah ......... 

Oleh KH Abdul Ghalib Syahuri Nur ........ 

Negara Yaman sejak dahulu terus berada dalam komplik yg berkepanjangan karena perebutan kekuasaan dan wilyah.

Di masa kepemimpinan penguasa Yaman yg bernama Al-Mahdi Ahmad  (1676–1681), menerapkan beberapa hukum diskriminatif yang paling keras terhadap orang-orang Yahudi yg ada di Yaman, yang berpuncak pada pengusiran semua orang Yahudi hazari (zionis) ke daerah yang kering panas dan gersang di dataran pantai Tihama. Melihat DNA kaum para habaib ini berhaplogrup G, apakah mereka bagian dari orang orang yg di usir tersebut, dan imigrasi ke Indonesia? Ini masih teka teki yg perlu di telusuri. 

Di masa kepemimpinan nya yaman terkenal satu-satunya produsen kopi terbesar di dunia. Banyak negara yg berhubungan diplomatik dengan penguasa Yaman, seperti Safavid di Persia , Ottoman di Hejaz , Kekaisaran Mughal di India dan Ethiopia. Kaisar Fasilides dari Ethiopia mengirim tiga misi diplomatik ke Yaman, tetapi hubungan tidak berkembang menjadi aliansi politik seperti yang diharapkan Fasilides , karena bangkitnya feodalisme yang kuat di negara tersebut. Pada paruh pertama abad ke-18, orang Eropa mematahkan monopoli Yaman atas kopi dengan menyelundupkan pohon kopi dan membudidayakannya di koloni mereka sendiri di Hindia Timur, Afrika Timur, Hindia Barat, dan Amerika Latin. ini yang menjadi penyebab ketidak setabilan negeri Yaman, sehingga memicu kekacawan, perang saudara dan perebutan kekuasaan, di tambah lagi invasi dari otoman dan engris membuat perekonomian negeri Yaman lumpuh. 

Nah disinilah kebanyakan penduduk Hadromi kaum para habaib merantau ke Indonesia untuk mencari ketenangan, keamanan dan rezeki. Pada tanggal 18 Agustus 1869 Suez membuka pelabuhan dan ini di manfaatkan kaum habaib untuk imigrasi ke Nusantara sehingga banyak di Indonesia yg mereka datang untuk mencari kehidupan yg lebih layak dan menghindari peperangan mencari kedamaian, maka sangat mustahil mereka di negara Indonesia bisa berjuang dan berperang bersama pribumi untuk mengusir Belanda, terbukti mereka bersekutu dengan Belanda dengan terangkatnya Usman bin yahya sebagai Mufti Belanda, bahkan persekongkolan mereka dengan Belanda untuk melawan gerakan kemerdekaan, telah di tulis oleh sejarawan Belanda.

Jadi sangat aneh dan janggal sekali kalau para habaib ini memaksakan kehendak mengaku mencetak ulamak dan membantu perjuangan.

Mereka di Indonesia selalu mendengung dengung kan bahwa nasab mereka bersambung ke rasulullah dan menganggap darah nabi berada dan mengalir di tubuh mereka, tujuannya tidak ada yg lain hanya ingin mengangkat setatus mereka di atas pribumi agar jejak sejarah kelam mereka tak terekspos di masyarakat, karena dengan setatus zdurryah nabi masyarakat bisa memaklumi dan menutupi rahasia nya, namun sejarah masa lalu tidak bisa lagi di tutup tutupi

Perlu publik tahu dan memahami bahwa nasab ba Alawi ini sudah 100 % batal bernasab kepada sayyidina Ahmad al-abah yg wafat di pertengahan abad empat, melalui empat kajian yg menyeluruh yg sulit di bantah nya 

Yang pertama secara kajian ilmu nasab, mereka gagal total melalui syhuhroh wal istifadoh karena syhuhroh kepopuleran mereka tidak memenuhi setandar istifadoh  karena sudah terbukti terputus kabar beritanya selama 500 tahun lebih 

فالإستفاضة هي الخبر الذي تكثرت رواته في كل طبقة ولم تصل حد التواتر 

Artinya: istifadoh itu adalah kabar yg sudah masyhur di riwayat kan oleh setidaknya empat orang di setiap tingkatan orang yg memberi kabar ( mulai dari abad empat hijrah sampai sekarang ) walau tak sampai pada taraf mutawatir

Kalau menggunakan pendekatan kitab nasab atau catatan dan manuskrip maka nasab meraka tambah batal karena semua bermula dari syekh Ali assakrin sebagaina telah di akui oleh Ahamad al-hasawi muridnya Habib Abdul Al-Hadad di kitabnya tastbitul Fuad hal 1650.

Syekh Ali assakrin ini telah mencangkokkan nasab nya Kakek muyang mereka yg bernama Ubaid pada nasab nya Sekh Abil Hasan Ali yg sama sekali tidak pernah menyebutkan nasab nya Ubaid kakek muyang mereka, apalagi nama kakeknya Abil Hasan Ali ini tidak pernah terkonfirmasi secara valid sebagai Anak nya Sayyid Ahmad al-abah .

Yang kedua gagal secara kajian ilmu sejarah karena pada abad 5 sampai abad 11 tidak pernah di sematkan julukan Al-Muhajir pada Sayyid Ahmad Al-Abah An-Naffazd, dan ternyata yg di sebut Ubaid dan ayahnya Ahmad Al-Muhajir hijroh nya dari Irak ke Hadramaut bersama Muhamad bin Sulaiman kakeknya Bani Al-Ahdal pada abad 6 tahun 540 hijriah, maka sangat mustahil itu Ahmad Al-Muhajir adalah Sayyid Ahmad Al-Abah yg sudah wafat di pertengahan abad 4.

Yang ketiga gagal secara tes DNA, karena kode dalam  kromosom darah mereka sama sekali tidak ada unsur kesamaan dengan keturunan ahlul bait yg lain seluruh dunia 

Yang ke empat adalah makam nya Ahmad Al-Abah yg di klaim mereka ada di husyaisyah Hadramaut ternyata di abad 9 hijrah tidak pernah di temukan ada makam sebagai mana data yg di tulis oleh kakek para habaib di abad tersebut

 ( فتح الرحيم الرحمن )

Maka sangat aneh sekali bagi orang yg berfikir masih mempercayai nasab kaum habaib bersambung ke kanjeng Nabi Muhammad Saw......

Komentar

Postingan Populer