NASAB PARA HABAIB TERNYATA HANYALAH MITOS FATAMORGANA MELALUI ASUMSI YANG TIDAK BERDASAR.

 


NASAB PARA HABAIB TERNYATA HANYALAH MITOS FATAMORGANA MELALUI ASUMSI YANG TIDAK BERDASAR.


oleh KH Abdul Ghalib Syahuri nur PP MISAS Batuampar Pamekasan


    Mitos adalah cerita atau narasi yang diyakini kebenarannya oleh sebagian kelompok masyarakat, meskipun tidak didukung oleh bukti faktual atau ilmiah. Kebanyakan yang percaya mitos adalah orang yang berpendidikan rindah atau rasionalitas nya terganggu, sedangkan fakta adalah sesuatu yang benar-benar terjadi atau ada, dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui observasi, penelitian, atau bukti empiris yang bersifat objektif dan dapat diverifikasi secara ilmiah. 

       Mitos dalam fatamorgana adalah Cerita fiksi atau cerita rekaan dan karangan yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis, bukan berdasarkan kejadian nyata. Namun anehnya sebagian tokoh atau masyarakat modern ini masih ada yang lebih percaya mitos dari pada fakta yang ada. Berangkat dari sini kami akan menjelaskan tentang nasab kaum para habaib melalui analogi dialogis, agar bisa di pahami secara utuh dan menjadi sugesti positif bagi mereka yang masih terbelenggu oleh husnuzdon yg tidak berdasar dengan berfikir secara adil dan rasional 


PERTANYAAN:

Siapakah kaum habaib itu? 


JAWABAN:

Kaum habaib atau para habib adalah identitas keluarga yang populer dari seluruh klan Ba-Alwi atau Ba-Alawi atau Bani Alawi, sebuah nisbah pada nama Alwi bin Ubaidillah. Nama habib baru Muncul di abad sebelas hijriah melalui seorang tokoh yg bernama Umar Bin Abdurrahman Al-Attosy w. 1072 H. Nama habib pernah di pakai oleh sehabat nabi yang bernama Habib Bin Muzdahhar Al-Asadi w. 61 H. Gelar habib juga pernah di pakai oleh ayah Ubaidillah Al-Mahdi tokoh Syiah Istna 'Asyariyah Ismailiyah w. 322 H. Identitas Habib

 / Ahibbak juga pernah di pakai oleh kaum Yahudi sebagai bentuk pengklaiman diri sebagai kekasih-kesahih Allah yg tidak mungkin di siksa walaupun berbuat dosa sebesar apapun,  ( Al-Maidah )  no: 18 ( Tanakh ) Ulangan 7:6:


PERTANYAAN:

Apakah gelar Habib ini pernah di sematkan pada keturunan Ahlul Bait dari jalur Sayyidina Hasan dan Husain AS ? 


JAWABAN:

Tidak pernah samasekali secara data dan kabar yang valid, karena keturunan Ahlul Bait ( Hasan Husain ) terkenal dengan sebutan Sayyid Sayidah dan Syarif Syarifah, baru di temukan gelar habib di anggap sebagai julukan keturunan Ahlul Bait  pada tahun 1324 H. 


PERTANYAAN:

Betulkah nasab kaum habaib klan Ba-Alwi yang bersambung pada Ahlul Bait nabi Muhammad Saw adalah tidak benar palsu dan dusta ?


JAWABAN:

Betul sekali secara kajian kaedah ilmu Nasab, ilmu Sejarah, ilmu fiqih, ilmu hadist, dan ilmu biologi 


PERTANYAAN:

Kenaba begitu kan nasab mereka sudah mashur / populer dan tercatat dalam banyak kitab-kitab nasab dan kitab-kitab sejarah ?


JAWABAN: 

Betul sekali, akan tetapi kepopuleran/ kemashuran tersebut baru di mulai setelah abad sembilan hijriah, sedangkan syarat kemashuran itu harus Mustafadh / populer dalam setiap generasi. Sedangkan catatan nasab itu baru di tulis di abad sebelas oleh internal Ba-lawi Sekh Ali Bin Abi Bakar As-Sakron w. 895 H. Tanpa adanya rujukan dan data valid yang bisa di terima.


PERTANYAAN: 

Bagaimana analoginya nasab kaum habaib batal secara kajian ilmu hadist dan ilmu fiqih ?


JAWABAN:

Melalui pendekatan Syuhroh Wal Istifadhoh. Nasab kaum habaib tidak memenuhi syarat  tersebut di atas, karena kepopuleran sebuah nasab yg melalui kabar berita seseorang harus ada kesenambungan / tidak terpus. Nasab kaum habaib kepopuleran nya sebagai keturunan nabi terputus Mulai dari masa kakek nya Ubaidillah w.383 H. sampai Muhamad Bin Ali Khirid w. 960 H. Dengan demikian maka batallah nasab kaum habaib melalui pendekatan kajian Ilmu Fiqih dan ilmu hadist.


Referensi: kitab ( Tahriru Ulumul Hadist : jld : 1 hal : 251 ) dan kitab ( Syarokhil Baiquniah: jld: 8 hal: 6  ) dan kitab ( Bahrul Madzhab jld: 14 hal: 134 ) dan kitab ( An-Nizdomul Qoshoiy Fi Fiqhil Islami hal: 320 )


PERTANYAAN:

Bagaimana analoginya nasab kaum habaib batal secara kajian ilmu Nasab ? 


JAWABAN:

Melalui pendekatan Thuruq Istbatun Nasab. Mari kita pokus kan pada dua cara saja yaitu dengan Shuhroh Wal Istifadhoh dan Ar-Ruq'ah / catatan. selain dua cara tersebut akurasinya kurang begitu kena.

Yang pertama melalui cara syhuhroh Wal Istifadhoh nasab kaum habaib ini gagal total, karena kabar kepopuleran nya telah  terputus mulai Dari abad empat sampai abad sepuluh -/+ 600 thn. Oleh karena itu maka gagal secara kajian ilmu Nasab 

Referensi: Kitab ( Almu'qibun hal: 13 ) dan kitab ( Rosail Fi Ilmil Ansab hal: 103 ) dan kitab ( Muqodimat Fi Ilmil Ansab hal: 59 ) dan kitab ( Al-Kafi Al-Muntakhob hal: 57-58 ) 


Yg kedua melalui catatan/Ar-Ruq'ah. Dalam sebuah catatan kaum habaib, kakek mereka yg bernama Ubaid/Ubaidillah adalah putra Sayyid Ahmad Al-Abah dan Alwi sebagai cucunya, setalah di telusuri ternyata tidak ada catatan ulamak nasab Mu'tabar yang mencatat mulai dari abad empat sampai abad 10. Bahkan silsilah mereka mulai dari Ubaid/Ubaidillah sampai Muhamad Maulad Dawileh tidak ada yang menyebut kan tentang keberadaannya sebagai tokoh di masa keturunan nya di abad 8. Maka secara kajian ilmu nasab, nasab mereka terdapat cacat hukum ( 'Illah Qodhihah )  dan terdapat kefiktifan ( Sardus Silsilah ) sehingga tidak bisa nasab seperti ini bisa di katakan nasab yg Maqbul/ di terima apalagi shohih. 

Referensi: ( Muqodimah Fi Ilmil Ansab hal: 59 ) dan kitab ( Muqodimat Fi Ilmil Ansab hal: 166 ). 

Apalagi jika melihat dokumen tertua mereka Al-Burqotul Musyiqoh ( dokumen internal ) maka di sana akan di tumkan nama yg di palsukan pada data yang tidak valid ( Ubaid sebagai Abdullah ) sehingga kata ulamak nasab nasab seperti ini di katakan Adroj, Ilshoq, Mufta'al dan Musytabah 

Referensi: ( Muqodimat Fi Ilmil Ansab hal: 65-66 ) dan kitab (  Rosail Fi Ilmil Ansab hal: 129 )

Apalagi telah di temukan catatan di abad enam bahwa Sayyid Ahmad Al-Abah hanya punya putra tiga ya itu Muhammad Ali Husain, maka tidak mungkin lagi Ubaid/Ubaidillah sebagai putra Sayyid Ahmad Al-Abah lagi 

Referensi: kitab ( As-Sajaratul Mubarokah hal: 127 ) dan kitab ( Muqodimat Fi Ilmil Ansab hal: 52 )


PERTANYAAN:

Bagaimana analoginya nasab kaum habaib gagal secara kajian ilmu sejarah?


JAWABAN:

Sacara data yang di temukan melalui dokumen putra-putranya Sayyid Ahmad Al-Abah yang sah dan diakui, kemungkinan besar beliau berasal dari Iran bukan dari basroh Irak, bahkan data tertulis cucunya yang bernama Abu Ja'far Al-A'ma adalah pindah dari qum Iran ke Basrah sudah dewasa, mungkin saja Ahmad Bin Isa Bin Zaid basroh di sangkanya Ahmad Al-Abah, Maka sangat tidak mungkin secara geografi beliau Sayyid Ahmad Al-Abah berasal dari Basroh Irak. Juga sangat tidak mungkin bisa dikatakan  beliau Al-Abah hijrah dari basroh Irak ke Hadramaut Yaman, karena data yang ada di abad empat, lima, enam, tujuh, delapan dan sembilan awal tidak ada yang meng informasikan  kejadian tersebut. Bahkan dalam data Al-Gaybah karya Al-Tusi di sebutkan bahwa Ahmad bin Isa bertemu Abul Hasan yang wafat pada tahun 254 H. Jika di hitung di mulai dari saat bertemu Sayyid Abul Hasan berumur 20 tahun, maka waktu hijrah keyaman beliau berumur 93 tahun. Rentan umur tersebut tidak memungkinkan bagi orang yang sudah tua pindah dari kampung halaman nya ketempat yg sangat jauh sekitar 2000 km lebih, apalagi di masa tersebut terjadi peperangan yg sengit antara kaum muslimin sehingga tidak aman melakukan perjalanan jauh, apalagi di anggap lari dari faham Syi'ah Istna 'Asyariyah yang agresif di masa itu. 

Ada distorsi yg sangat besar jika Ahamad Al-Abah di anggap Imam Al-Muhajir, mengingat beliau dalam data primer dan sekunder terkenal dengan seoranng sodagar kaya pedagang minyak. Maka databaru ( Imam Al-Muhajir ) dengan tenggang jarak 600 tahun lebih sangat sulit di benarkan secara kajian ilmu sejarah. 

Mari kita buka data internal mereka dan internal Banil Ahdal kapan hijrah nya Ahamad Al-Muhajir ? . Ternyata hijrahnya di abad enam sekitar tahun 540 H bersama putra dan cucunya juga sepupu nya yaitu Ubaid, Alwi dan Muhammad Bin Sulaiman. Maka mustahil kalem Ahmad Al-Muhajir ayah biologis Ubaid adalah Ahamad Al-Abah bin Isa karena beliau di awal abad empat sudah meninggal 

Referensi: Kitab ( Ghuraril Bahaid Dhowi hal: 461 ) dan Kitab ( Masyro'ir Rowi hal: 134 ) dan kitab ( Syarokhil Ainiyah hal: 130-131 ) dan Kitab ( As-Syamsul Dzahirah hal: 85 ) dan kitab ( Tuhfatiz Zaman hal: 143 ) dan kitab ( Tobaqotil Khowash hal: 195 )


PERTANYAAN:

Bagaimana cara mengetahui mereka gagal secara kajian ilmu biologi/tes DNA?


JAWABAN:

Bisa di ketahui melalui kode yang terdapat dalam Ancestry DNA test, setalah di adakan tes DNA dari banyak kalangan habaib maka terdapat haplogrup G-m201 yang merupakan cabang dari F m129 dan subklade dari  M285 dan G2-P287 . Sedangkan haplogrup keturunan kanjeng nabi yg sahih saat ini selain Habaib adalah J1-m267 cabang dari J-m204 dan subklade / cabang dari haplogrup y J-P209 yang berkode dari J1-L859 atau J1-FGC8703 

Maka secara genitika dalam darah mustahil kaum habaib keturunan kanjeng nabi Muhammad Saw.....

Komentar

Postingan Populer